Tuesday, April 25, 2006

Merokok Mati, Tak Merokok Mati. Maka Lebih Baik?

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi III/2005)

Oleh : Marim Purba
(Warga binaan LP Pematangsiantar, yang sesekali merokok)
***
Beberapa tahun yang lalu saya mendapat hadiah buku edisi Bahasa Inggeris dari kakak yang baru kembali dari Amerika Serikat. Dalam perjalanan ‘kesana-kemari’ buku tersebut sekarang hilang entah kemana. Judul dan isi bukunya lucu dan menarik, yaitu "Rokok dan Politik." Buku tersebut menceritakan sejarah dan tali temali persoalan rokok. Walaupun semua orang mengetahui bahwa rokok membahayakan, tapi masalah rokok sudah bergeser dari sudut kesehatan ke aspek ekonomi dan sekarang sudah menjadi masalah politik.
Marim Purba dan putranya, ketika masih jadi 'orang bebas' dan bercengkerama di sebuah kolam renang di Jakarta

Betapa tidak, industri rokok mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam kehidupan bisnis dan sosial. Industri rokok terbukti merupakan mata rantai panjang pengolahan tembakau mulai dari petani, tenaga kerja pengolahan, fabrikasi, sampai pemasaran.

Ketika saya membaca Harian Kompas, dalam salah satu hari penerbitannya dimuat beberapa halaman soal rokok. Dituliskan, bahwa konon berjuta tahun yang lalu ketika tanah menjadi gundul dan penduduk kelaparan, Roh Besar mengirim seorang dewi untuk menyelamatkan kehidupan. Maka dewi itupun berkeliling dunia. Yang disentuh tangan kanannya tumbuh menjadi kentang, dan yang disentuh tangan kirinya tumbuh menjadi jagung. Sementara yang didudukinya tumbuh menjadi tembakau!

Begitulah mitologi suku Indian Huron menggambarkan tembakau yang sudah berabad-abad berkembang bersama peradaban Amerika Latin. Jumlah perokok secara global terus mengalami peningkatan. Walaupun dibeberapa kawasan jumlah perokok menurun, tetapi sejak rokok diperkenalkan kepada dunia pada awal abad ke 20 secara keseluruhan jumlah perokok dunia terus meningkat.

Kini tembakau (Nicotina Tobacum). terutama dalam bentuk rokok telah dikonsumsi oleh lebih dari sepertiga usia dewasa penduduk bumi. Kurang lebih satu milyar laki-laki diseluruh dunia merokok. Sementara terdapat sekitar 250 juta orang perempuan yang merokok. Di negara berkembang dari 50% penduduk yang merokok ternyata laki-laki lebih banyak mengkonsumsi rokok (35%). Sementara di negara-negara maju perempuan banyak yang merokok (22%) dibandingkan perempuan dinegara berkembang.

Rokok dan Politik akhirnya mempunyai kaitan yang erat. Lihatlah bagaimana rokok mempengaruhi banyak sisi kehidupan manusia. Ajakan untuk merokok melalui reklame menghabiskan biaya promosi yang sangat besar. Di India papan reklame tidak boleh mengiklankan rokok, dan peraturan ini berhasil menahan laju peningkatan perokok. Disisi lain walaupun rokok tak baik untuk kesehatan, tapi di Indonesia perusahaan rokok telah menjadi sponsor pertunjukan musik dan kompetisi olahraga.

Sangat mengkhawatirkan bahwa pengguna rokok dikalangan remaja meningkat. Seperempat dari perokok remaja memulai mengisap rokok sebelum mereka berusia 10 tahun. Padahal menurut Tobacco Atlas 2002 yang diterbitkan badan kesehatan dunia WHO, dari remaja-remaja yang meneruskan kebiasaan merokok setengahnya akan meninggal dunia karena berbagai penyakit akibat rokok.

Kerugian karena merokok baik berupa kematian premature, mordibilitas, disabilitas mencapai Rp. 27,3 Trilyun.
Belanja tembakau mencapai Rp. 122,1 Trilyun, untuk menghidupi 2.600 industri rokok (dengan nikotin dan tar terukur). Sementara diperkirakan sekitar 10% diantaranya adalah industri illegal (bahan kimianya tidak diketahui). Bahkan dalam era otonomi daerah industri rokok diperkirakan lebih dari 3.000 unit usaha, dan pada umumnya merupakan industri kecil. Mekanisme bisnis dan jejaring kepentingan industri rokok membuat industri rokok saling membunuh. Setidaknya kesemuanya telah memproduksi lebih dari 203 milyar batang rokok.
Ketika negara membutuhkan target pemasukan melalui APBN sebesar Rp. 600 Trilyun, maka 30 Trilyun diantaranya berasal dari cukai rokok. Di beberapa negara cukai dianggap sebagai alat pembatas masuknya ‘barang-barang berdosa’ dan dananya dipakai untuk menangani akibat ekternalitas. Misalnya, jika rokok dianggap membahayakan bagi kesehatan, maka dana dari cukai rokok dipakai untuk biaya merehabilitasi akibat-akibat yang ditimbulkan rokok. Tetapi di Indonesia cukai dianggap murni sebagai pendapatan negara.

Cukai rokok Indonesia sangat rendah, cuma 8% dibandingkan dengan Thailand (80%), India (70%), Nepal, Malaysia, Myanmar (75%). Kebanyakan di Indonesia mereka yang merokok rata-rata adalah golongan masyarakat menengah ke bawah. Orang-orang miskin membelanjakan 8-9% pendapatannya untuk membeli rokok dan bisa dibeli batangan, sehingga orang yang busung lapar pun masih bisa menikmati rokok. Akibatnya rokok di Indonesia sulit mengontrolnya dan Indonesia merupakan perokok No. 5 di dunia.

Kekhawatiran kehilangan Rp. 30 Trilyun dari rokok menyebabkan Indonesia enggan menyepakati konsensus yang dituangkan oleh Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)/Konvensi Internasional dalam Pengendalian Tembakau. Padahal sudah 168 negara meratifikasi ketentuan tersebut, termasuk negara-negara Asean - kecuali Indonesia.

Semua orang mengetahui bahwa merokok tidak baik. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan rokok mengganggu kesehatan sepanjang hidup, mengakibatkan ketidakmampuan fisik, dan berakhir dengan kematian. Para perokok beresiko kena penyakit kanker, serangan jantung, dan stroke. Merokok bagi perempuan hamil memicu keguguran, dan kelahiran bayi dengan berat badan rendah. Rokok menjadi urutan pertama penyebab kematian melebihi HIV/AIDS, penyalagunaan obat, kecelakaan jalan raya, dan kombinasi pembunuhan dan bunuh diri. Jika 100 juta orang tewas karena rokok pada abad 20, maka pada abad ke 21 jumlah yang tewas karena rokok meningkat menjadi 1 milyar orang.

Mati memang soal biasa, sebab penguasa hanya melihat manusia cuma deretan angka dan data. "Merokok akan mati, tidak merokok (juga) akan mati. Kalau begitu lebih baik (tidak) merokok !!," begitu kata teman yang suka nongkrong disamping Gereja LP. Pilihan jawabannya bisa bermacam-macam. Teman saya mengatakan merokok menyebabkan ‘awet muda’, terutama karena sudah keburu mati dan tidak sempat tua…

Pada umumnya orang (banyak) merokok saat membaca, bermain catur, dan juga menunggu - termasuk di Penjara. Seberapa hebat orang-orang menghabiskan rokok di LP Pematangsiantar? Jika dianggap rata-rata kapasitas Napi/Tahanan sebanyak 670 orang, hanya kurang lebih 20 orang (laki-laki dan perempuan) yang tidak merokok. Selebihnya pada umumnya merokok rata-rata 10 batang sehari. Ada yang tidak merokok karena tidak punya rokok, tetapi ada yang merokok berlebihan Di blok Dolok (tahanan) diperkirakan lebih banyak merokok dibandingkan Napi di blok lain, karena statusnya ‘masih sejahtera.’

Mereka yang menunggu sambil merokok di LP yaitu warga binaan (menunggu bebas), dan juga staf pegawai (menunggui warga binaan). Berdasarkan perhitungan kasar hasil dialog sel ke sel di LP Pematangsiantar, warga binaan termasuk staf pegawai diperkirakan menghabiskan 7.400 batang rokok per hari, atau 222.000 batang rokok per bulan. Lalu, berapa batang rokok yang dihabiskan oleh penghuni seluruh penjara di Indonesia?
Bagaimana caranya berhenti merokok? Apakah perlu terapi dan obat penawar yang ampuh? Caranya begini; nyalakan rokok terakhir anda, lalu hisap sekali dengan nikmat, kemudian injak sampai mati, dan berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak merokok! Mudah, bukan? Jika takut cepat mati karena sakit akibat rokok, maka berhentilah merokok! Sebab saya juga mencoba mengurangi (dan berhenti) merokok…

Friday, April 21, 2006

Dari Penjara ke Penjara *)

30 Maret 2006
Surat dari ENGGANG-10 (Edisi V/2005)
Oleh: Marim Purba
***
Beberapa minggu yang lalu, Koran PosMetro Siantar memuat komentar Grace Christiane, anggota DPRD Pematangsiantar tentang membludaknya pendaftar seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Katanya, “Mungkin menjadi PNS dianggap lebih bergengsi.” Sementara di Koran Kompas terlihat foto beberapa wanita di Bandung yang menangis, terjepit antrian pengambilan formulir CPNS. Mengapa menjadi PNS (sangat) penting, dan bagaimana konsepsi kita tentang kerja?
Dari Kanan: Saya (Mansen Purba SH), istri saya dan Marim, saat santap bersama ketika saya menjenguknya di LP P.Siantar

PNS, “Tango”
Menurut hemat saya PNS menjadi fenomena menarik. Sebab pada awalnya PNS direkrut untuk menyatukan Indonesia yang baru dalam satu wawasan kenegaraan dan pemerintahan. Saat itu Indonesia memerlukan orang untuk memutar birokrasi di wilayah yang luas dan beragam. Kehendak politik kemudian menyebabkan PNS dimobilisasi bukan sekedar mesin birokrasi, tapi juga mesin politik untuk mempertahankan kekuasaan. Akhirnya PNS disorientasi, salah arah dan bias.

Dalam perjalanan kemudian, ketika peran swasta sudah tumbuh dan menjadi lebih besar, PNS tak lagi dipandang sebagai ‘tiang’ utama, khususnya dalam beberapa pelayanan publik. Listrik sudah ada (perusahaan) yang mengurus, tak perlu PNS. Air Minum sudah ada (perusahaan) yang mengurus, dan tak perlu PNS. Demikian juga Rumah Sakit, pelayanan Telepon, Angkutan Darat (Kereta Api, Bus), Angkutan Udara (tidak hanya Garuda, sudah banyak maskapai swasta), Angkutan Laut (Pelni), dll. Dibanyak kegiatan PNS tak lagi diperlukan.

Bahkan Dinas Kebersihan seyogianya tak memerlukan PNS. Sebab PNS yang parlente tak suka dengan sampah yang jorok. Selama ini Tenaga Harian Lepas yang membersihkan kota. Kebersihan bisa diserahkan kepada swasta. Toh, iuran kebersihan dan subsidi bisa diberikan untuk operasional kebersihan. Di penjara ini sudah terbukti, tak ada perhatian PNS terhadap masalah sampah. Peran dan kerjasama (swasta) Napi yang akhirnya mengelola sampah; mengatur pembuangannya, mengendalikannya, dan membuat sampah menjadi berharga (proses dekomposisi).

Itulah sebabnya, ketika ada kesempatan membina sekitar 5.300 PNS di Pematangsiantar, saya tak ‘usil’ membuka penerimaan PNS. Sebab hanya 800 orang yang memiliki jabatan struktural, sisanya sebanyak 4.500 orang hanya staf biasa, sebagian hanya duduk di warung kopi. Penerimaan hanya diperlukan bagi yang kompetensinya (karena keahliannya) tak bisa tergantikan. Sisanya, lagi-lagi, ‘nongkrong’ di Jalan Diponegoro, di Pasar Horas, dan menghadiri banyak sekali pesta-pesta (maklum, halak kita melulu pesta). Kebutuhan akan PNS harus dihitung berdasarkan perbandingannya dengan jumlah penduduk, luas areal wilayah perkotaan, dan bidang pelayanan yang akan dikerjakan.

Lalu mengapa banyak orang yang berbondong-bondong ingin menjadi PNS? Padahal kecil kemungkinan dapat jabatan, gaji kecil dan lama naik pangkat. Kebanyakan PNS yang gila jabatan, akhirnya sakit ketika pensiun. Mungkin sebagaimana komentar di PosMetro, PNS menjadi pertaruhan bagi ‘gengsi’. Sebab etos kerja yang dianggap paling bergengsi ialah “gaji sedikit, tapi terjamin sampai hari tua.” Konsepsi tentang ‘kerja’ yang keliru ini mengakibatkan banyak PNS yang tidak produktif, tidak kreatif, cari jalan pintas (pesimis pada ‘gaji’ kecil, tapi optimis ‘berpenghasilan’ besar). Etos kerja PNS kita sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan swasta nasional, apalagi swasta multinasional.

Lihatlah beberapa PNS yang terjebak dalam rutinitas, dan tak mau buang waktu kerja serius. Masuk pagi, ikut apel, duduk ngobrol, cari makan siang, lalu pulang – disebut PNS “Tango” – yaitu, bunyi bel “Tang!”, lalu “Go!” (pulang). Tentu saja tak semua PNS kacau, masih banyak yang disiplin dan punya integritas menjadi abdi negara.. Ayah saya bersyukur, karena pensiun dari PNS, merasa masih sehat lalu kerja di swasta sampai sekarang di usia 69 tahun. Juga kita bersyukur, karena sedang (pernah) terpidana, dan tak bisa ikut seleksi CPNS. Supaya tidak menambah berat beban negara!
Penjara terbuka jika kesempatan kerja tertutup.

Setidaknya ada beberapa motivasi orang berebut menjadi PNS; Pertama, karena menganggap gengsi PNS masih tinggi, tak capek kerja tapi terjamin sampai hari tua (pensiun); Kedua, karena tak mampu bersaing dengan dunia kerja swasta diluar PNS; Ketiga, karena lapangan pekerjaan semakin sempit. Bagaimana sebenarnya kondisi ketersediaan lapangan kerja?
Sekarang jumlah angkatan kerja Indonesia 106,9 juta, dan yang setengah menganggur sudah mencapai 40,1 juta orang (bekerja kurang dari 35 jam seminggu), dan yang benar-benar menganggur sebanyak 11,6 juta orang (termasuk kita yang berada di penjara). Angka laju penciptaan lapangan kerja tak mampu mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja yang terus meningkat. Tahun 1997 angka pengangguran masih 4,7% tetapi kemudian terus meningkat sampai 10,9% (2005). Artinya, jumlah penganggur terbuka tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 12,6 juta orang. Sementara penganggur terbuka di Negara Asia lainnya jauh dibawah Indonesia; Vietnam (6,1%), Malaysia (3,4%) dan Thailand (1,5%).

Gawatnya, duapertiga penganggur yang ada sekarang adalah golongan usia muda, 15-24 tahun. Ini mencemaskan karena dapat memicu keresahan dan gejolak sosial. Tambahan lagi, ternyata penganggur tidak hanya mereka yang kurang terdidik, tetapi juga angkatan kerja terdidik. Banyak orangtua tak percaya lagi dengan produk pendidikan tinggi, akhirnya jumlah pendaftar siswa baru di PT swasta dan negeri terus menurun.

Pengangguran berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi. Tahun 1994 pertumbuhan ekonomi yang naik 1% akan menciptakan lapangan kerja bagi 375.000 orang. Tetapi angka itu terus menurun karena pertumbuhan 1% hanya menyerap 178.000 orang. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan tentunya yang berkualitas, yaitu bersumber investasi dan ekspor, jangan berbasis pada konsumsi dan hutang. Pemerintahan SBY bertekad akan mengurangi angka pengangguran menjadi 5,1% pada tahun 2009, melalui kebijakan yang mendukung pertumbuhan (pro growth), penciptaan lapangan kerja (pro-job creation), dan berpihak pada orang miskin (pro-poor).

Tapi sebaliknya, menurut BPS kenaikan BBM rata-rata 126% pada Oktober 2005 akan menciptakan pengangguran 426.000 orang. Padahal menurut asosiasi pengusaha, kenaikan BBM bahkan sudah mengakibatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sampai 700.000 orang. Lalu, bagaimana jika diikuti rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) awal tahun 2006? Bukankah akan lebih banyak industri yang megap-megap, dan akhirnya melahirkan pengangguran baru. Mungkin kita harus memeriksa data dan angka dibagian register LP ini, apakah ada kaitan antara kenaikan jumlah tahanan dengan kenaikan BBM dan Listrik? Menurut hemat saya, kemiskinan akan melahirkan kerawanan sosial, dan memicu kejahatan. Jika lapangan kerja tertutup, tahanan akan semakin banyak, dan pintu penjara tetap menerima dengan tangan terbuka …

Menjual Matahari
Secara iseng saya bertanya kepada teman-teman para Napi (diwawancara secara acak dari sel ke sel ), “Apa rencana Anda setelah keluar dari penjara?” Hanya sebagian kecil (3%) yang mempunyai rencana, selebihnya sebagian besar tak punya rencana. Mengapa tidak punya rencana terhadap masa depan (setelah keluar penjara)? Sebagian besar (70%) alasannya adalah tidak punya ketrampilan, dan sisanya menyebutkan alasannya yaitu ‘gamang’ menghadapi keadaan diluar 10% (percepatan informasi, kemajuan teknologi, dll), dan sisanya ‘tidak ada modal’ untuk memulai usaha.

Memulai kerja memang tidak mudah, tapi diatas semua kebutuhan diatas (ketrampilan, penguasaan teknologi, dan modal) sangat diperlukan motivasi, ketekunan kerja, berpikir positip dan bertindak kreatif, serta ketahanan menghadapi tekanan. Jika tak bisa kerja disektor formal, mari mengisi sektor informal. Prof. Bungaran Saragih mengatakan negara ini sudah bangkrut, tapi yang membuatnya bertahan adalah sektor informal, dan bagian terbesar adalah karena peran sektor pertanian. Tapi masih begitu banyak lahan yang diterlantarkan. Itulah sebabnya ‘di penjara ini saya belajar bertani, dari para petani yang terpenjara’.
Adler Haymans Manurung (44 thn), anak kelahiran Porsea yang gigih sekolah dan giat bekerja, menulis buku laris “Wirausaha Bisnis Usaha Kecil Menengah” yang mungkin patut kita baca. Dalam pengantar buku tersebut Prof. Martani Huseini menyebutkan bahwa hambatan bagi pemula adalah bagaimana memulai suatu usaha, lalu bagaimana memposisikan dalam persaingan agar tidak mati, dan kemudian bagaimana menjaga agar keberlangsungan bisnis bisa tetap terjaga. Lagi-lagi memerlukan motivasi dan kerja keras.

Tapi, mari kita lihat seorang pemuda di Jawa Timur. Dalam masa menganggur dia berpikir keras, dan kemudian ketekunannya membuahkan hasil. Dia menawarkan kepada para turis dengan bahasa Inggeris cas-cis-cus seadanya, untuk memandu/menemani turis yang akan mendaki gunung. Sang pemuda bangun dini hari, siapkan sarapan sang turis, dan bawakan perlengkapannya, kemudian menemani turis tersebut melihat matahari terbit (seakan bola besar matahari berada diatas kepala) di Gunung Bromo. Pekerjaan tersebut dilakukannya dengan tekun dan sekarang dia sudah sukses. Kisahnya dimuat dalam tulisan tentang orang-orang muda yang gigih dan sukses, dalam sebuah buku dengan judul “Menjual Matahari”.

Pembina(sa)an
Saya tak tahu kita semua akan jadi apa setelah keluar dari penjara. “Pikiran manusia yang terbatas tak mampu melampaui rencana Tuhan yang tak terbatas”. Tapi kebutuhan untuk tekun, gigih, dan terampil diluar penjara, harus dimulai dari latihan di dalam penjara. “Menganggur jangan sendiri, dan sendiri jangan menganggur”.

Teman disebelah yang ikut senam Jumat dengan goyang malas-malasan nyelutuk, “Aku bosan terus menerus mendengar pidato yang mengatakan : wahai anak didik .. wahai warga binaan! Karena aku tak pernah merasa dididik apalagi dibina”, katanya dengan lirih. Memang, sudah terasa tipis bedanya antara pembinaan dengan ‘pembinasaan’.
Lalu, apa yang akan kau lakukan di luar penjara jika tak dapat binaan ketrampilan di dalam penjara? Dia menjawab ketus, “Ya, balik lagi ke penjara…”.

Bah, dari penjara ke penjara? Ada-ada saja.
*) Ditulis saat sendiri, dan tidak menganggur.

'Selamat Imlek Gie'

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi II/2005)
Oleh : Marim Purba
(Pemrakarsa penayangan film Gie di LP Kls II-A Pematangsiantar)


***
Seorang anak muda pendiam terlihat berjalan lurus menyandang tas berisi buku. Tampangnya seperti umumnya mahasiswa di tahun 65-an, celana panjang sederhana dan baju warna putih tangan pendek. Matanya tajam agak sipit dan wajahnya terlihat serius, melangkah tegas di Jalan Kebon Jeruk, daerah pecinan Glodok – Jakarta. Melintasi beragam aktivitas keseharian masyarakat kecil yang selalu menjadi perhatiannya.


Dibagian lain, sewaktu menjadi dosen didepan para mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sang pemuda itu berkata lantang, “Nama saya Soe Hok Gie. Panggil saya Soe atau Gie, tapi jangan panggil saya Bapak!” Saya dan penonton lain tertawa. Pernyataan lugu yang menjadi sisi lain dari keseriusannya.

Gambaran diatas adalah potongan film GIE yang telah saya tonton. Film produksi Miles kerjaan anak-anak muda Indonesia, yang sejak 14 Juli 2005 lalu serentak diputar di 30 bioskop di 10 kota besar Indonesia. Saya menonton dengan rasa penasaran, karena film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran, buku yang sejak tahun 1983 menjadi ‘bacaan wajib’ aktivis mahasiswa semasa kami kuliah di Bandung. Buku tersebut ditulis langsung dalam bentuk catatan harian oleh Alm. Soe Hok Gie sejak usia 15 tahun, dan catatannya kemudian menjadi sumber inspirasi saya dalam berjuang.

***
Soe Hok Gie memang cerdas, tajam dan kukuh. Kata-kata yang menjadi ikon keyakinan terhadap prinsip ditulisnya, “Saya telah memutuskan akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Dibagian lain ia menulis : “… nasib baik ialah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda.”

Soe Hok Gie lahir 17 Desember 1942, adik sosiolog Dr. Arief Budiman (Soe Hok Djin), dosen Univ. Kristen Satyawacana - Salatiga yang sekarang sudah hijrah ke Australia. Ayahnya Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan adalah redaktur berbagai surat kabar Tjin Po, Panorama, Kung Yung Pao, dan terakhir redaktur harian Sadar di Jakarta.

Gie kecil mulai sekolah di Sin Hwa School, sebuah sekolah khusus keturunan Cina, kemudian masuk ke SMP Strada dan ke SMA Kanisius, Jakarta. ‘Perlawanan’nya dimulai sejak muda, saat Gie berumur 14 tahun lebih 3 bulan, ketika ia protes dengan penurunan nilai ujian yang menurutnya dilakukan oleh guru secara sewenang-wenang. Dalam catatannya dituliskannya “Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu … Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras bagai batu.” Begitu ekspresif dan puitik! Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya; tentang hidup, cinta dan kematian. Sejak itu Gie aktif menulis dan artikelnya yang merupakan kritik sosial terhadap kekuasaan dan korupsi dimuat diberbagai surat kabar.
Sejak kecil Soe atau Gie – panggilan akrabnya, telah menyatu dengan berbagai buku. Dalam usia remaja dia sudah melahap buku-buku karya Goethe atau Rabindranath Tagore. Gie juga terampil menuangkan pikirannya secara tertulis tentang pandangan hidupnya, tentang politik dan masalah sosial disekitarnya. Sikap yang dibangun dari bacaannya akhirnya membentuk pribadi Gie yang kristis, kukuh dalam mempertahankan nilai kemanusiaan dan kebenaran.

Tahun 1961 Gie masuk ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan terlibat dalam pergolakan pergerakan mahasiswa. Gie yang gemar mendaki gunung ikut mendirikan kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI. Gie menjadi orang terdepan dalam demonstrasi-demonstrasi menentang kekuasaan yang korup, turun ke jalan melakukan aksi Tritura dan ikut serta dalam menjatuhkan Soekarno. Terhadap teman-teman demonstran yang setelah selesai berjuang kemudian terbawa dalam ‘menikmati kekuasaan’ Gie juga melakukan protes dengan mengirimkan mereka gincu dan cermin sebagai simbol fungsi DPR yang banci. Gie termasuk orang yang pertama melakukan kritik terhadap Orde Baru.

Gie memang ‘anak Cina’ yang mencintai bangsa ini, menjunjung tinggi kemanusiaan dan non diskriminatif. Nasionalismenya lebih-lebih dari mereka yang mengaku ‘pribumi.’ Dalam catatannya dituliskan : “Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan merasai kedukaan…” Gie adalah fenomena dan sekaligus ironi, karena dalam kesendirian perjuangannya ia mati muda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru sehari sebelum usianya yang ke 27. “…. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati ditempat tidur,” demikian salah satu catatannya.
Pada 8 Desember 1969, sebelum Gie berangkat mendaki gunung, ia sempat menuliskan catatannya : “…Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti …” Gie dimakamkan tanggal 24 Desember 1969 di Menteng Pulo, dan dua hari kemudian dipindah ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Pada tahun 1975 pemerintah membongkar Pekuburan Kober dan harus dipindah lagi. Tapi teman-temannya sempat ingat ‘pesan’ Gie dan akhirnya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di puncak Gunung Pangrango.

***
Soe Hok Gie telah tiada, tapi dihidupkan kembali melalui layar lebar dengan judul film GIE, disutradarai oleh pemuda berbakat Riri Riza (35 tahun), lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selama kurang lebih 3 (tiga) tahun ia mengerjakan skenarionya dengan delapan kali perubahan disana-sini. Menurut Riri pembuatan film ini yang paling melelahkan, dengan 70 hari kerja pengambilan gambar, menghasilkan durasi 4,5 jam dan harus diedit sedemikian rupa menjadi 147 menit. Waktu yang terbilang lama untuk sebuah film lokal. Pengambilan gambar di Jakarta, Semarang, Yogya, Gunung Merapi dan lembah Mandalawangi. Walaupun susah mencari pemeran ‘yang benar-benar Cina’ tapi penampilan Nicholas Saputra bagus. Menurut saya peran yang dimainkan Sita Nursanti menarik, juga ketika melantunkan lagu Donna Donna (Joan Baez), lagu kesukaan Soe Hok Gie. Sita Nursanti memang berbasis sebagai penyanyi. Soundtrack judul lagu GIE diciptakan Eros Chandra.

Mira Lesmana berkomentar, “Soe Hok Gie adalah sosok ideal laki-laki…” Film ini adalah sebuah keberanian karena mempunyai tema ‘politik’ yang belum tentu komersil. Tapi Mira percaya bahwa “masih banyak anak muda yang tidak hanya sekedar ke mall saja, masih ada hero. Ada elemen-elemen kemanusiaan yang mungkin kita lupakan, dan bisa kita temukan di film GIE,” urai Mira. Walaupun tidak komersial tetapi sang produser optimis bisa juga ‘booming.’

***

Ketika keluar bioskop saya melihat bahwa sebagian besar penonton adalah mahasiswa keturunan Cina. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Tersisa pertanyaan apakah film ini menarik bagi aktivis mahasiswa yang sekarang telah membiaskan reformasi? Setidaknya film ini bisa menumbuhkan nasionalisme para mahasiswa warga keturunan Cina untuk lebih berperan aktif dalam masalah bangsa ini.

Gie bukan satu-satunya. Jauh sebelumnya sudah banyak keturunan Cina yang punya komitmen kuat tentang kebangsaan. Kwee Thiam Tjing (Tjamboek Berdoeri) pada 1947 menggambarkannya tentang tekanan Belanda dan Jepang oleh golongan “djamino dan djoeliteng” terhadap warga Tionghoa dalam buku “Indonesia dalam api dan bara,” dll, dst. Sebagaimana John Maxwell (Australia) yang telah melakukan riset selama 10 tahun tentang Soe Hok Gie mengatakan, “Gie tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya.” Soe Hok Gie adalah gambaran bahwa pada dasarnya semua manusia sama hak dan martabatnya. Jika manusia Indonesia mempunyai hak sama, maka semuanya juga terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Semua adalah pemilik Republik yang sah, tidak ada yang menumpang – bahkan bagi mereka yang dipenjara sekalipun. Semua orang wajib menjaga martabat dan harkatnya, dan semua tindakan kesombongan kekuasaan - apalagi semua bentuk kekerasan yang menurunkan harkat kemanusiaan kita - haruslah disingkirkan.

Gie mengajarkan kepada kita semua yang berada dalam lingkungan lembaga kemasyarakatan betapa solidaritas dan kesetiakawanan terhadap sesama harus selalu dibangun. Dalam kebersamaan kepentingan pribadi harus dipinggirkan dan mendahulukan kepentingan umum. Kebersamaan tak memandang perbedaan suku, agama dan ras warna kulit.
Keturunan Cina dimanapun adalah sesama anak bangsa. Tidak boleh ada penekanan, pemerasan, penindasan, dan semua sikap non diskriminatif harus disingkirkan. Gie mangajak kita merajut masa depan. Selamat Imlek, Gie. “XIN NIAN MUNG EN, WAN SE RU YI.” Saya berjanji akan membantu penayangan film Gie di Lapas ini.

Gie adalah seorang pejuang pemikir. Keteguhan hati dalam berprinsip membuatnya semakin terasing. Seperti ditulis Dhakidae, “Gie telah ditarik dalam ketiadaan dan kesepian, bahkan jenazahnya pun ditolak ditanah kelahirannya. Suatu penolakan tandas, sehabis-habisnya! Tapi Gie tidak sendirian. Terhadap pembela keadilan selalu banyak dukungan. Arif Budiman, kakaknya, menuliskan perenungan “betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun cuma didalam hatinya.

Thursday, April 20, 2006

Membangun Kultur Membaca dan Menulis

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi I/2005)
Oleh : Marim Purba
Warga Binaan LP Kls II-A Pematangsiantar.
Dalam karikatur salah sebuah koran nasional pertengahan Agustus 2005, digambarkan seorang anak kecil memegang bendera merah putih yang diikat di ujung bambu runcing sambil menyeletuk : “life ‘kan begin sixty lho Pak.” Lalu didepannya ada karikatur orang tua dengan usia kurang lebih 60 tahunan yang berjalan tertatih dengan wajah pusing disertai tulisan : “krisis, korupsi …”
Suasana LP Pematangsiantar tempat penulis kini bermukim

Pesan karikatur diatas sesungguhnya ingin mengatakan bahwa Indonesia belum beranjak kemana-mana. Setelah 60 tahun merdeka Indonesia baru mau memulai ‘hidup baru.’ Sebelumnya dan sampai saat ini masih terbelit benang kusut akibat anak-anak negeri yang berkelahi. Semua orang ingin maju ke depan, tapi kepemimpinan kita lemah. Kebanyakan masyarakat tak percaya dengan pemimpinnya, dan mengekspresikan sendiri-sendiri keinginannya secara membabi buta. Dari banyak analisis salah satu penyebab utamanya adalah karena pendidikan kita masih terpuruk. Struktur populasi Indonesia akan bertambah berat jika tidak ada terobosan dibidang pendidikan, baik pada proses maupun hasil (output) dari pendidikan.

Perkiraan Bappenas bersama BPS dan United Nations Population Fund bahwa di tahun 2025 penduduk Indonesia berjumlah 273,7 juta, dibandingkan penduduk tahun 2000 sebesar 205,8 juta. Penduduk yang besar akan membuat gerbongnya semakin berat, terutama dengan beban pemenuhan kebutuhan dasar, sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Pada tahun 2025 diperkirakan karakteristik golongan usia produktif (15-64 tahun) merupakan populasi yang terbesar (68,7%). Namun demikian lapisan ini akan menjadi kontraproduktif jika pembenahan dalam dunia pendidikan kita masih tertinggal. Berdasarkan penelitian, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik diukur dari tingkat keseriusan negara mendukung pendidikan.

Indikator rendahnya mutu pendidikan kita antara lain dari rata-rata nilai ujian nasional, rendahnya penyerapan bahan oleh peserta didik, dan rentang yang jauh antara apa yang diajarkan dengan realitas pekerjaan di lapangan. Faktor penyebabnya juga beragam, mulai dari masalah dana dan prasarana yang minim, kurikulum yang sentralistis dan membebani, manajemen pendidikan, dan kelemahan kualitas guru. Diantara panjangnya mata rantai kemerosotan mutu pendidikan, kita tak bisa berdiam diri menyerah pada kendala struktur pendidikan yang kusut. Salah satu faktor penentu dalam melakukan terobosan adalah guru yang penuh dedikasi dan kreativitas. Ketika Jepang porak poranda akibat kalah perang, dan ribuan korban bergelimpangan saat Hiroshima dan Nagasaki di bom, Kaisar Jepang bertanya : “Masih berapa banyak lagi kah guru yang tersisa?” Kaisar menyadari bahwa guru penting dalam menerobos kegelapan untuk menggapai masa depan.

Memprihatinkan bahwa saat ini banyak guru yang telah disorientasi. Datang, mengajar sesuai kurikulum baku, dan pulang. Bahkan ada beberapa yang berorientasi pada proyek mulai dari rehab sekolah, pengadaan sarana, dan proyek buku. Penulis juga pernah menerima banyak sekali permohonan pindah dari daerah terpencil ke area perkotaan. Guru tidak lagi kreatif, kurang dinamis, dan ‘takut berkeringat!’ Guru malahan menjadi partisan dan berkoalisi dengan ‘kekuasaan.’ Guru sekarang jarang sekali yang membaca, dan bahkan tidak lagi menulis!

Secara keseluruhan salah satu faktor turunnya mutu pendidikan kita adalah karena rendahnya minat baca dan menulis dikalangan peserta didik. Guru harus menjadi motor penggerak utama gerakan membangun kultur membaca dan menulis.
Kegemaran membaca membuat anak menjadi imajinatif dan kreatif. Membaca adalah pangkal meletakkan basis nalar. Berdasarkan kemampuan pancaindera, manusia normal menerima sesuatu dengan melihat (membaca) adalah 35 kali lebih kuat daripada mendengar. Kenyataan saat ini masyarakat kita terlalu cepat melompat dari kultur baca ke kultur tampak (audio visual). Padahal kebanyakan menonton melemahkan daya nalar, menjadikan malas dan tidak kreatif. Guru bersama-sama komite sekolah harus turut menyiapkan ketahanan keluarga dalam menghadapi serangan TV yang cenderung semakin bersifat massal, artifisial, konsumtif dan kurang mendidik. Mengapa jumlah waktu anak didepan TV jauh lebih besar dibandingkan waktu anak didepan buku?

Laporan Bank Dunia (1992) di kawasan Asia Timur menyebutkan betapa rendahnya mutu pendidikan kita dari ketrampilan membaca. Murid kelas 4 SD Indonesia berada diperingkat paling rendah dengan skor 51,7, lebih rendah dari Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Kemampuan membaca adalah prasyarat utama untuk memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Membaca juga mengasah daya nalar dan kreativitas. Buku adalah jendela dunia, dan membaca merupakan jalan keluar dari kedunguan, kebodohan dan keterbelakangan. Guru dan komite sekolah harus mendorong pembentukan kultur membaca di keluarga. Ketika di rumah anak seharusnya melihat Ayah dan Ibunya melaksanakan kegiatan membaca, dan orangtua seyogianya membawa anak-anak ke toko buku, bukan hanya ke mall atau plasa.

Buku adalah anak rohani manusia. Tanpa buku tak ada nyanyian kebebasan. Tanpa buku tak ada nyanyian peradaban manusia. Sayangnya terbitan buku kita masih sedikit dan harganya mahal. Indonesia hanya menerbitkan kurang lebih 10.000 an judul setiap tahun, jauh dibandingkan dengan yang diterbitkan oleh Amerika Serikat (100.000), Inggeris (61.000) dan Jepang (44.000) judul buku per tahun. Alternatif jalan keluarnya, guru bisa meminta agar setiap murid yang akan keluar/tamat menyumbangkan buku (baru atau bekas) yang bersifat umum ke perpustakaan sekolah.

Sekolah seyogianya kembali membangun tradisi program “silent reading” dari jam 07.00 hingga 07.30, dimana selama setengah jam sebelum pelajaran dimulai suasana senyap hanya untuk membaca! Hal ini melatih disiplin membaca, dan bukan hanya akan membangkitkan kegemaran membaca tapi juga ketahanan membaca. Lebih baik lagi jika setelah membaca, siswa diminta menjelaskan atau mendiskusikan secara singkat intisari bacaannya. Hal ini akan melatih kemampuan verbal siswa dalam berdiskusi, berdebat, dan mengkomunikasikan isi pikirannya.

Bersamaan dengan kegiatan membaca, guru harus membiasakan siswa menulis. Sebab kegiatan menulis adalah dorongan bagi siswa untuk menuliskan kerangka konsep tentang impiannya, tentang visi yang merangsang daya pikir. Kegiatan menulis adalah guratan pena tentang tahapan masa depannya sendiri. Pada umumnya kesukseskan hidup berpadanan dengan kemampuan menulis. Tentu saja guru juga harus menulis. Bagaimana mungkin guru mengajar tanpa (meningkatkan pemahaman dengan) membaca, dan tanpa (bisa menuangkan gagasannya dengan) menulis.

Guru sebaiknya mulai mendorong siswa membuat catatan harian masing-masing. Siswa akan terlatih menuangkan pikiran (dan perasaannya) melalui tulisan yang teratur dan mencatat secara detil suatu peristiwa. Melalui menulis siswa akan terdorong untuk menambah pengetahuan dengan membaca. Kultur membaca akan tertanam dalam dirinya. Membaca di halte bis, membaca diperjalanan, atau membaca sebelum tidur. Setelah itu siswa akan membiasakan diri mengunjungi toko buku, mencari buku bekas di tukang loak, dan mencintai buku dengan memelihara buku.

Guru bisa mengajarkan siswa cara merawat buku, membundel majalah, mengklipping guntingan koran dan mengklasifikasikannya sesuai dengan topik. Guru juga bisa mengajarkan cara praktis mengelola perpustakaan sekolah. Perpustakaan USU dinilai secara nasional sebagai perpustakaan yang dikelola dengan baik. “Studi tour” ke Perpustakaan USU penulis yakin akan diterima dengan senang hati oleh pimpinannya Bapak Ridwan Siregar (?)

Ada banyak cara mendorong kebiasaan siswa menulis. Guru dan komite sekolah dapat mendorong diadakannya ‘warta sekolah,’ atau majalah dinding baik disekolah maupun di masyarakat. Para siswa diminta untuk berpartisipasi dengan menulis. Cara lain ialah dengan melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya. Juga membuat klub buku, dimana mereka secara bergiliran diberi tugas membeli dan membaca buku untuk bahan diskusi rutin. Semakin intens kegiatan klub buku, maka jumlah buku yang dibaca semakin banyak dan kategori materinya semakin luas.

Pada akhirnya pembentukan kultur membaca dan menulis adalah bagian yang paling penting dalam proses belajar mengajar. Walaupun di usia 60 Tahun Kemerdekaan Indonesia dunia pendidikan masih kusut, tapi untuk merajut masa depan yang cerah guru dapat melakukan terobosan dengan mendorong siswa mencintai buku, gemar membaca, dan rajin menulis – juga di penjara. Walau banyak waktu luang, tetapi kebanyakan penjara Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai. Bahkan Koran pun tak tersedia selama bertahun-tahun. Warga binaan gelap informasi, dan logika (membaca)nya makin menyusut. Ada banyak cara mendorong kebiasaan menulis. Pimpinan harus mendorong diadakannya ‘warta,’ atau majalah dinding baik disekolah maupun di masyarakat. Para warga binaan diminta untuk berpartisipasi dengan menulis. Cara lain ialah dengan melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya. Juga membuat klub buku, dimana mereka secara bergiliran diberi tugas membeli dan membaca buku untuk bahan diskusi rutin. Semakin intens kegiatan klub buku, maka jumlah buku yang dibaca semakin banyak dan kategori materinya semakin luas.

Regina Redaning, seorang siswi SMP menuliskan pusinya
“Buku untuk Dunia”
Untuk apa kau membaca tanya guru
Sebab aku ingin mengerti dunia jawabku.
Untuk apa membaca anak-anakku tanya guru
Sebab buku adalah jendela jawabku.
Bukalah setiap halaman buku, sampai penuh jiwamu.

Tuesday, April 18, 2006

Tahukah Anda?

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi IV/2005)


(Dikutip dari berbagai sumber, ditulis oleh warga binaan LP Siantar, sebagai pengantar lezatnya santap malam)
Oleh : Marim Purba
***
Bahwa setiap tahun 4.000 pasien jantung menunggu ‘bahan’ jantung cangkokan, sementara donor yang tercatat hanya 2.200 saja. Sampai Juni 2003 telah dilakukan 66.353 transplantasi jantung di seluruh dunia. 85% diantaranya hidup lebih dari setahun, dan 70% bertahan lebih dari lima tahun. Semula tahun 1950 diteliti kemungkinan jantung buatan. Tahun 1969 jantung buatan pertama diberi nama ‘Liotta’ bertahan 64 jam. Pada 1981 ‘Akutsu’ bertahan dua hari lebih, dan 1982 ‘Jarvik-7’ dipasang kedalam tubuh Barney Clark dan bertahan 112 hari. Oktober 2004 Jack Copeland melalui SynCardia System menghasilkan jantung buatan diberi nama ‘CardioWest’. Sambil menunggu stock sumbangan jantung, CardioWest berupa ‘generator’ yang disambungkan dengan panel dari dalam dada, disimpan dalam ransel dan dipanggul oleh pasien kesana-kemari. Jika Napi punya jantung buatan dalam tas, hati-hati jangan sampai selangnya dicabut rekan sekamar. Anda butuh jantung buatan? Para peminat bisa mencarinya di Tucson Aricona – USA, dengan harga sekitar AS$ 140.000 atau senilai Rp. 1.29 Milyar. # #
Ini hanya sebuah foto hiburan. Bayi yang seolah-olah mabok menenggak bir. Tertawa lah sebelum tertawa dilarang

Bahwa anak-anak menyerap 75% kalsium dari makanan, dan hanya menyerap 20-40% saat usia dewasa, dan pertumbuhan massa tulang akan berpuncak pada usia 25 tahun. Itulah sebabnya susu sangat diperlukan oleh bayi dan anak. Sayangnya ibu-ibu Indonesia yang memberikan ASI (air susu ibu) pada 2002 hanya 95,9%, turun dari tahun sebelumnya, dan yang memberikan ASI pada 6 bulan pertama hanya 39,5%. Celakanya tingkat konsumsi susu di Indonesia 6,5 liter/kapita/tahun jauh dibawah Malaysia 20 liter/kapita/tahun dan sangat jauh dibandingkan AS yang 100 liter/kapita/tahun. Karena itu bayi Indonesia dengan usia dua tahun beratnya lebih rendah 2 kg, dan tingginya 5 cm lebih pendek dibandingkan bayi bangsa lain. Kita butuh waktu 600 tahun untuk mengejar ketinggalan konsumsi susu …. # #

Bahwa Afrika; tanah misteri dunia hewan dan tarian suku, tempat dimana manusia bersatu dengan kehidupan liar 2,5 juta tahun lalu, dihambat keadaan geography, 15 dari 47 negara dikurung daratan. Afrika memiliki sejarah manusia yang miskin dan dilanda perang saudara selama ratusan tahun, tanah kering dan gurun, pembantaian hewan dan kerusakan alam yang parah. Dari 40 juta penduduk dunia yang terkena HIV-AIDS, 26 juta diantaranya terdapat di sub-Sahara Afrika, dan 5,3 juta diantaranya terdapat di Afrika Selatan jauh lebih banyak ketimbang Negara manapun di dunia. Akibatnya 12,3 juta anak langsung menjadi yatim piatu. Di sub-Sahara Afrika setiap hari 8.500 orang terjangkit, 6.300 orang meninggal setiap hari. Berapakah biaya obat ARV (pencegahan memburuknya penyakit dan kematian)? Jika di Amerika Serikat 15.000 dolar AS per pasien, maka biaya tahunan per pasien Cuma 650 dolar AS! #

Bahwa lagi-lagi di Afrika; jangankan vaksin, obat pun tak ada untuk menumpas Cacing Guinea (Drancunculus medinensis), yang telah menyebabkan penderitaan manusia selama puluhan ribu tahun. Larva cacing Guinea hidup dalam tubuh kutu air di sumber air yang buruk. Ketika manusia meminumnya, dan pencernaan manusia membinasakannya, namun larvanya terus berkembang menjadi dewasa. Cacing jantannya mati dalam tubuh manusia, tetapi sang betinanya terus membesar dua sentimeter per minggu. Dalam setahun cacing sepanjang satu meter mirip benang wol ini perlahan-lahan keluar dari bagian bawah kaki atau lengan manusia yang menjadi korban, dengan sakit nyeri yang luar biasa! Luka bekas keluarnya cacing akan membesar dan menyakitkan, dan mendorong penderita buru-buru ke air untuk merendam luka. Tapi cacing Guinea dalam tubuh manusia yang merasa dekat dengan air, akan melepaskan ribuan larva yang kemudian akan dimakan kembali oleh kutu air. Begitulah lingkaran penyakit tersebut terus berlanjut. Jika penyakit cacar sudah dihapus, maka cacing Guinea ditargetkan bisa dibasmi 2009, melalui perubahan perilaku rakyat miskin ditempat paling terlantar di dunia. Walau perkiraan kasus 2004 masih 0,02 juta, tetapi Carter Center sempat mencatat tahun 1986 masih terdapat 3,5 juta kasus ditemukan di sebagian besar Afrika, juga di Timur Tengah dan Asia Tengah dan Selatan (India). Para sukarelawan punya cara sederhana mengajari masyarakat; saring air minum dengan kain katun penyaring, dan jika cacingnya keluar dari kaki jangan buru-buru mendekati sumber air.Hasilnya jumlah penderita menurun 60%. Tapi, kapankah akhir sebuah kutukan ini? # #

Penulis Dan Buettner telah melakukan wawancara dengan 50 orang yang berusia diatas 100 tahun (centenarian) pada tiga tempat yang berbeda : Penganut Advent Hari Ketujuh di Loma Linda California Amerika Serikat yang meminum setidaknya 5 gelas air sehari,; Orang Sardinia di Italia yang memilih arak anggur merah; dan Orang Okinawa di Jepang yang meminum teh hijau secara teratur. Berdasarkan pengamatan pada umumnya mereka semua : 1) tidak merokok, 2) mengutamakan keluarga, 3) berkegiatan sepanjang hari, 4) berhubungan dengan orang lain, 4) menyantap buah dan sayuran. Tapi satu hal yang dicermati, mereka tak menggerutu. Bagaimana kiat umur panjang di Penjara? Semua syarat diatas sulit dilakukan, tetapi mengobrol (seperti kebiasaan orang Jepang) masih bisa dilaksanakan. Karena itu, supaya tak cepat mati, bercakap-cakaplah dengan temanmu - jangan diam saja! Dan ingat, jangan menggerutu! # #

Hanya ada 14 puncak gunung di dunia dengan ketinggian diatas 8.000 meter, dan tak sampai sejumlah itu orang yang telah mendakinya. Tapi ketika Ed Viesturs, warga Amerika tiba di puncak Annapurna, maka ia telah melampaui semuanya. Pada tahun 1977 pada usia belasan tahun ia membaca buku Annapurna karya Maurice Herzog, dan lalu memutuskan akan mendaki Gunung St. Helens pada tahun pertama perkuliahan di University of Washington. Sejak itu ia merasa akan mendaki gunung seumur hidupnya. Setelah Annapurna ia telah mendaki 13 gunung lainnya, diantaranya Mt. Everst 1990, lalu K2 gunung tertinggi kedua pada 1992. Sebelumnya tahun 1989 Gunung Kanchejunga di Nepal yg merupakan tertinggi ketiga didunia. Pengalaman mendaki Everest tanpa oksigen dan diterpa badai yang menewaskan teman-temannya, adalah kejadian yang sudah dilaluinya. Bahkan, salah satu dari 14 gunung tersebut, yaitu Gunung Rainier telah didakinya sebanyak 191 kali! Luar biasa! Jika Ed Viesturs telah pergi ke ‘atap-atap dunia,’ bagaimana dengan anda? Kita yang di penjara, tak boleh naik lebih tinggi dari pos jaga, di penjara manapun di dunia! # #

Bahwa setiap orang pernah terkena Flu. Umumnya jika badan kurang sehat virus menyebabkan Flu, dan penelitian membuktikan bahwa Flu menjadi penyebab kematian utama di dunia. Manusia masa lalu yang telah kebal virus flu menyebabkan virus mengalami mutasi terus menerus menjadi ‘virus model baru.’ Flu burung dan flu manusia bertukar gen. Ketika Flu Burung (H5NI) berjangkit di Asia Selatan sampai ke Indonesia, peneliti mengemukakan fakta bahwa ‘Flu Spanyol’ pada tahun 19818-1919 yang dicurigai berasal dari unggas menyebabkan kematian hampir 100 juta orang, tiga kali lebih banyak dari korban Perang Dunia I. Flu Spanyol mewabah ke seluruh pelosok dunia kecuali beberapa penduduk asli kepulauan pasifik. Pada tahun 1957 ‘Flu Asia’ juga telah menyebar di China Selatan dan menewaskan 1.000.000 orang. Selanjutnya tahun 1968 ‘Flu Hongkong’ menyebabkan kematian 750.000 orang. Flu Burung di era sekarang ini , muncul sejak 1997 dan akan menjadi flu pembunuh berikutnya. Meningkatnya perjalanan udara dan mobilitas manusia menyebabkan virus ini bisa menyebar ke seluruh dunia hanya dalam waktu 3 bulan; menyeberang mulai dari Hongkong, Bangkok, Jakarta, Sidney, Mumbai, Sao Paulo, Lagos, Caracas, Havana, Washington, Roma, Budapest, Shanghai dan sampai ke Teheran. Penjara adalah ruang isolasi kebetulan bagi anda. Sepanjang ‘orang baru’ yang masuk tak positip terkena virus H5NI, dan sepanjang tak ada burung yang dipelihara, singgah dan lewat, maka anda masih aman dari serangan Flu Burung. Atau ‘burung’ anda yang lain sudah terkena virus? Bah …!! # #

Bahwa gambar polisi dalam ukuran lengkap sudah dipakai di beberapa Negara untuk mengingatkan para pengendara kenderaan. Di Indonesia, pada beberapa kota besar dan tikungan berbahaya gambar polisi dipasang seperti terlihat nyata, supaya pengemudi hati-hati dan disiplin. Di daerah Belgorod, Rusia para pengendara mobil ternyata lebih takut kepada boneka polisi ketimbang polisi betulan. Menurut Ivan Zybin, Deputi Komandan Detasemen Polisi Lalu Lintas didekat perbatasan Ukraina, polisi palsu ini juga dilengkapi dengan pistol pengukur kecepatan dan pentungan hitam putih yang sedang diacungkan, dan didekatnya ada gambar mobil polisi mirip dengan yang asli. Bahkan menurut Alexei Zakharov, polantas yang dirinya dijadikan model, sebagian pengemudi ada yang terkecoh, sampai berhenti dan mendatangi polisi palsu tersebut, dan menunjukkan SIM serta STNK-nya. Apakah anda takut dengan polisi asli atau lebih takut kepada "asli polisi?" # #

Bahwa di Amerika Serikat, baru-baru ini sebuah dompet kembali ketangan pemiliknya setelah hilang selama 39 tahun. Doug Smith (57), pemilik dompet itu, mengucapkan terima kasih atas kejujuran orang yang menemukannya. Smith, warga Negara Bagian Pennsylvania, secara tak sengaja meninggalkan dompetnya di sebuah pompa bendsin di Logan, Negara Bagian Utah, musim panas 1967. Pemilik pompa bensin menemukan dompet itu masih berada ditempat yang sama. Lewat internet, ia berhasil melacak keberadaan Smith dan mengirimkan dompet itu kepadanya. (Wah, kejujuran yang berusia lama; ditegakkan dengan prinsip, dipertahankan dengan konsisten. Jujur itu manis). Persis seperti pada saat ia tertinggal, dompet itu masih berisi uang sebanyak 5 dolar AS dan prangko bernilai 8 sen. Disana juga masih ada kartu mahasiswa Smith saat ia masih kuliah di Universitas Negeri Utah, serta foto ia bersama pacarnya kala itu. "Waktu itu rambut saya masih banyak," kata Smith yang kini sudah botak. #

Bahwa ada Tujuh obat-obatan yang mengubah dunia; 1) Opium (Candu), obat penting baik dari sudut politik, dagang, maupun budaya. Opium adalah bahan utama obat penahan rasa sakit. 2) Vaksin Cacar, Edward Jenner memperkenalkan vaksin cacar yang dibuat dari antibody sapi pada tahun 1798. Tahun 1885, para pelancong dari Montreal, daerah epidemic cacar, disuntik vaksin diatas kereta api yang sedang berjalan. 3) Salvarsan, diciptakan Paul Ehrlich (Jerman), bahan kimia yang menyerang pathogen spirochete, yang membawa penyakit sipilis. Karena metodanya, ia dikenal sebagai ‘bapak kemotrapi.’ 4) Insulin, sebelum Frederick Banting dan kolega-koleganya mengisolasi jenis hormone ini pada tahun 1920an, para pasien diabetes terpaksa diet ketat. Tidak banyak obat yang bisa menyembuhkan begitu banyak orang dengan cepat. 5) Penisilin, saat ditemukan tahun 1928 orang tak hirau dengannya. Antibiotik ini mulai dikenal pada Perang Dunia II ketika digunakan untuk mengobati serangkaian penyakit yang menular dan mematikan. 6) Enovid, jenis pil kontrasepsi pertama di Amerika pada tahun 1960. Pada tahun 1970, enovid yang dikonsumsi jutaan orang menjadi obat pertama yang mencantumkan efek samping pada kemasannya. Hal yang ditentang para ahli kesehatan pada masa itu, tetapi menjadi hal yang wajar dimasa sekarang. 7) Thalidomide, pada awal 1950-an dan sampai akhir 1960-an obat ini dipakai orang sebagai penyebab lahir mati atau lahir cacat para bayi yang ibunya mengkonsumsi obat penenang ini semasa kehamilan. Thalidomide muncul kembali pada tahun 1990-an sebagai solusi pengobatan komplikasi penyakit kusta dan penyakit lainnya. # #

Bahwa saat ini telah tersedia Program Genographic untuk mencari jejak silsilah. Menurut Spencer Wells, pakar genetika, silsilah sampai 60.000 tahun ke belakang berharap bisa dilacak melalui program ini. "DNA kita semuanya seperti buku sejarah," katanya. Ia dan tim penelitinya yang dibiayai Waitt Family Foundation, akan mengumpulkan sekitar 100.000 sampel (contoh) DNA, meliputi penduduk asli seluruh dunia, mulai dari orang Inuit di Kanada sampai dengan orang Masai di Kenya. Konon, alur-alur bersejarah yang menghubungkan umat manusia dapat juga diungkap dengan menentukan pola perpindahan (migrasi) leluhur mereka. Menurut analisa, Afrika sebagai asal manusia modern 200.000 tahun yang lalu, dan kemudian menyebar ke Eropa, Asia Utara terus ke Amerika Utara dan ke Amerika Latin. Sekitar 50.000 tahun lalu manusia Afrika juga bermigrasi ke Asia Selatan, ke Indonesia dan sampai ke Australia. Anda yang di penjara mau mendukung dan berpartisipasi dalam Program Genographic? Belilah paket khusus yang digunakan untuk mengambil sample DNA dari sebelah dalam pipi anda. Kemudian kirim sample itu, untuk dianalisa dan dimasukkan kedalam pendataan Genographic. Setelah itu buka internet, dan kunjungi website-nya untuk menyimak peta migrasi leluhur anda. Bisa jadi bahwa anda ternyata masih bersaudara dengan Presiden Bush, atau ternyata anda sepupu jauh Osama Bin Laden? # #

Teman saya di Blok Beringin bertanya : "Pak, apakah Medan-Siantar masih dilayani Bis Intra?" Agaknya terlalu lama di penjara, sampai tak tahu informasi diluar. Tahukah anda bahwa orang ‘di luar’ sesungguhnya, juga tak tahu informasi ‘di dalam’, karena diam-diam kita sengaja menyimpan cerita tentang penjara? Tahukah anda …??