Thursday, April 20, 2006

Membangun Kultur Membaca dan Menulis

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi I/2005)
Oleh : Marim Purba
Warga Binaan LP Kls II-A Pematangsiantar.
Dalam karikatur salah sebuah koran nasional pertengahan Agustus 2005, digambarkan seorang anak kecil memegang bendera merah putih yang diikat di ujung bambu runcing sambil menyeletuk : “life ‘kan begin sixty lho Pak.” Lalu didepannya ada karikatur orang tua dengan usia kurang lebih 60 tahunan yang berjalan tertatih dengan wajah pusing disertai tulisan : “krisis, korupsi …”
Suasana LP Pematangsiantar tempat penulis kini bermukim

Pesan karikatur diatas sesungguhnya ingin mengatakan bahwa Indonesia belum beranjak kemana-mana. Setelah 60 tahun merdeka Indonesia baru mau memulai ‘hidup baru.’ Sebelumnya dan sampai saat ini masih terbelit benang kusut akibat anak-anak negeri yang berkelahi. Semua orang ingin maju ke depan, tapi kepemimpinan kita lemah. Kebanyakan masyarakat tak percaya dengan pemimpinnya, dan mengekspresikan sendiri-sendiri keinginannya secara membabi buta. Dari banyak analisis salah satu penyebab utamanya adalah karena pendidikan kita masih terpuruk. Struktur populasi Indonesia akan bertambah berat jika tidak ada terobosan dibidang pendidikan, baik pada proses maupun hasil (output) dari pendidikan.

Perkiraan Bappenas bersama BPS dan United Nations Population Fund bahwa di tahun 2025 penduduk Indonesia berjumlah 273,7 juta, dibandingkan penduduk tahun 2000 sebesar 205,8 juta. Penduduk yang besar akan membuat gerbongnya semakin berat, terutama dengan beban pemenuhan kebutuhan dasar, sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Pada tahun 2025 diperkirakan karakteristik golongan usia produktif (15-64 tahun) merupakan populasi yang terbesar (68,7%). Namun demikian lapisan ini akan menjadi kontraproduktif jika pembenahan dalam dunia pendidikan kita masih tertinggal. Berdasarkan penelitian, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik diukur dari tingkat keseriusan negara mendukung pendidikan.

Indikator rendahnya mutu pendidikan kita antara lain dari rata-rata nilai ujian nasional, rendahnya penyerapan bahan oleh peserta didik, dan rentang yang jauh antara apa yang diajarkan dengan realitas pekerjaan di lapangan. Faktor penyebabnya juga beragam, mulai dari masalah dana dan prasarana yang minim, kurikulum yang sentralistis dan membebani, manajemen pendidikan, dan kelemahan kualitas guru. Diantara panjangnya mata rantai kemerosotan mutu pendidikan, kita tak bisa berdiam diri menyerah pada kendala struktur pendidikan yang kusut. Salah satu faktor penentu dalam melakukan terobosan adalah guru yang penuh dedikasi dan kreativitas. Ketika Jepang porak poranda akibat kalah perang, dan ribuan korban bergelimpangan saat Hiroshima dan Nagasaki di bom, Kaisar Jepang bertanya : “Masih berapa banyak lagi kah guru yang tersisa?” Kaisar menyadari bahwa guru penting dalam menerobos kegelapan untuk menggapai masa depan.

Memprihatinkan bahwa saat ini banyak guru yang telah disorientasi. Datang, mengajar sesuai kurikulum baku, dan pulang. Bahkan ada beberapa yang berorientasi pada proyek mulai dari rehab sekolah, pengadaan sarana, dan proyek buku. Penulis juga pernah menerima banyak sekali permohonan pindah dari daerah terpencil ke area perkotaan. Guru tidak lagi kreatif, kurang dinamis, dan ‘takut berkeringat!’ Guru malahan menjadi partisan dan berkoalisi dengan ‘kekuasaan.’ Guru sekarang jarang sekali yang membaca, dan bahkan tidak lagi menulis!

Secara keseluruhan salah satu faktor turunnya mutu pendidikan kita adalah karena rendahnya minat baca dan menulis dikalangan peserta didik. Guru harus menjadi motor penggerak utama gerakan membangun kultur membaca dan menulis.
Kegemaran membaca membuat anak menjadi imajinatif dan kreatif. Membaca adalah pangkal meletakkan basis nalar. Berdasarkan kemampuan pancaindera, manusia normal menerima sesuatu dengan melihat (membaca) adalah 35 kali lebih kuat daripada mendengar. Kenyataan saat ini masyarakat kita terlalu cepat melompat dari kultur baca ke kultur tampak (audio visual). Padahal kebanyakan menonton melemahkan daya nalar, menjadikan malas dan tidak kreatif. Guru bersama-sama komite sekolah harus turut menyiapkan ketahanan keluarga dalam menghadapi serangan TV yang cenderung semakin bersifat massal, artifisial, konsumtif dan kurang mendidik. Mengapa jumlah waktu anak didepan TV jauh lebih besar dibandingkan waktu anak didepan buku?

Laporan Bank Dunia (1992) di kawasan Asia Timur menyebutkan betapa rendahnya mutu pendidikan kita dari ketrampilan membaca. Murid kelas 4 SD Indonesia berada diperingkat paling rendah dengan skor 51,7, lebih rendah dari Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Kemampuan membaca adalah prasyarat utama untuk memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Membaca juga mengasah daya nalar dan kreativitas. Buku adalah jendela dunia, dan membaca merupakan jalan keluar dari kedunguan, kebodohan dan keterbelakangan. Guru dan komite sekolah harus mendorong pembentukan kultur membaca di keluarga. Ketika di rumah anak seharusnya melihat Ayah dan Ibunya melaksanakan kegiatan membaca, dan orangtua seyogianya membawa anak-anak ke toko buku, bukan hanya ke mall atau plasa.

Buku adalah anak rohani manusia. Tanpa buku tak ada nyanyian kebebasan. Tanpa buku tak ada nyanyian peradaban manusia. Sayangnya terbitan buku kita masih sedikit dan harganya mahal. Indonesia hanya menerbitkan kurang lebih 10.000 an judul setiap tahun, jauh dibandingkan dengan yang diterbitkan oleh Amerika Serikat (100.000), Inggeris (61.000) dan Jepang (44.000) judul buku per tahun. Alternatif jalan keluarnya, guru bisa meminta agar setiap murid yang akan keluar/tamat menyumbangkan buku (baru atau bekas) yang bersifat umum ke perpustakaan sekolah.

Sekolah seyogianya kembali membangun tradisi program “silent reading” dari jam 07.00 hingga 07.30, dimana selama setengah jam sebelum pelajaran dimulai suasana senyap hanya untuk membaca! Hal ini melatih disiplin membaca, dan bukan hanya akan membangkitkan kegemaran membaca tapi juga ketahanan membaca. Lebih baik lagi jika setelah membaca, siswa diminta menjelaskan atau mendiskusikan secara singkat intisari bacaannya. Hal ini akan melatih kemampuan verbal siswa dalam berdiskusi, berdebat, dan mengkomunikasikan isi pikirannya.

Bersamaan dengan kegiatan membaca, guru harus membiasakan siswa menulis. Sebab kegiatan menulis adalah dorongan bagi siswa untuk menuliskan kerangka konsep tentang impiannya, tentang visi yang merangsang daya pikir. Kegiatan menulis adalah guratan pena tentang tahapan masa depannya sendiri. Pada umumnya kesukseskan hidup berpadanan dengan kemampuan menulis. Tentu saja guru juga harus menulis. Bagaimana mungkin guru mengajar tanpa (meningkatkan pemahaman dengan) membaca, dan tanpa (bisa menuangkan gagasannya dengan) menulis.

Guru sebaiknya mulai mendorong siswa membuat catatan harian masing-masing. Siswa akan terlatih menuangkan pikiran (dan perasaannya) melalui tulisan yang teratur dan mencatat secara detil suatu peristiwa. Melalui menulis siswa akan terdorong untuk menambah pengetahuan dengan membaca. Kultur membaca akan tertanam dalam dirinya. Membaca di halte bis, membaca diperjalanan, atau membaca sebelum tidur. Setelah itu siswa akan membiasakan diri mengunjungi toko buku, mencari buku bekas di tukang loak, dan mencintai buku dengan memelihara buku.

Guru bisa mengajarkan siswa cara merawat buku, membundel majalah, mengklipping guntingan koran dan mengklasifikasikannya sesuai dengan topik. Guru juga bisa mengajarkan cara praktis mengelola perpustakaan sekolah. Perpustakaan USU dinilai secara nasional sebagai perpustakaan yang dikelola dengan baik. “Studi tour” ke Perpustakaan USU penulis yakin akan diterima dengan senang hati oleh pimpinannya Bapak Ridwan Siregar (?)

Ada banyak cara mendorong kebiasaan siswa menulis. Guru dan komite sekolah dapat mendorong diadakannya ‘warta sekolah,’ atau majalah dinding baik disekolah maupun di masyarakat. Para siswa diminta untuk berpartisipasi dengan menulis. Cara lain ialah dengan melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya. Juga membuat klub buku, dimana mereka secara bergiliran diberi tugas membeli dan membaca buku untuk bahan diskusi rutin. Semakin intens kegiatan klub buku, maka jumlah buku yang dibaca semakin banyak dan kategori materinya semakin luas.

Pada akhirnya pembentukan kultur membaca dan menulis adalah bagian yang paling penting dalam proses belajar mengajar. Walaupun di usia 60 Tahun Kemerdekaan Indonesia dunia pendidikan masih kusut, tapi untuk merajut masa depan yang cerah guru dapat melakukan terobosan dengan mendorong siswa mencintai buku, gemar membaca, dan rajin menulis – juga di penjara. Walau banyak waktu luang, tetapi kebanyakan penjara Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai. Bahkan Koran pun tak tersedia selama bertahun-tahun. Warga binaan gelap informasi, dan logika (membaca)nya makin menyusut. Ada banyak cara mendorong kebiasaan menulis. Pimpinan harus mendorong diadakannya ‘warta,’ atau majalah dinding baik disekolah maupun di masyarakat. Para warga binaan diminta untuk berpartisipasi dengan menulis. Cara lain ialah dengan melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya. Juga membuat klub buku, dimana mereka secara bergiliran diberi tugas membeli dan membaca buku untuk bahan diskusi rutin. Semakin intens kegiatan klub buku, maka jumlah buku yang dibaca semakin banyak dan kategori materinya semakin luas.

Regina Redaning, seorang siswi SMP menuliskan pusinya
“Buku untuk Dunia”
Untuk apa kau membaca tanya guru
Sebab aku ingin mengerti dunia jawabku.
Untuk apa membaca anak-anakku tanya guru
Sebab buku adalah jendela jawabku.
Bukalah setiap halaman buku, sampai penuh jiwamu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home