Tuesday, April 25, 2006

Merokok Mati, Tak Merokok Mati. Maka Lebih Baik?

Surat dari ENGGANG-10 (Edisi III/2005)

Oleh : Marim Purba
(Warga binaan LP Pematangsiantar, yang sesekali merokok)
***
Beberapa tahun yang lalu saya mendapat hadiah buku edisi Bahasa Inggeris dari kakak yang baru kembali dari Amerika Serikat. Dalam perjalanan ‘kesana-kemari’ buku tersebut sekarang hilang entah kemana. Judul dan isi bukunya lucu dan menarik, yaitu "Rokok dan Politik." Buku tersebut menceritakan sejarah dan tali temali persoalan rokok. Walaupun semua orang mengetahui bahwa rokok membahayakan, tapi masalah rokok sudah bergeser dari sudut kesehatan ke aspek ekonomi dan sekarang sudah menjadi masalah politik.
Marim Purba dan putranya, ketika masih jadi 'orang bebas' dan bercengkerama di sebuah kolam renang di Jakarta

Betapa tidak, industri rokok mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam kehidupan bisnis dan sosial. Industri rokok terbukti merupakan mata rantai panjang pengolahan tembakau mulai dari petani, tenaga kerja pengolahan, fabrikasi, sampai pemasaran.

Ketika saya membaca Harian Kompas, dalam salah satu hari penerbitannya dimuat beberapa halaman soal rokok. Dituliskan, bahwa konon berjuta tahun yang lalu ketika tanah menjadi gundul dan penduduk kelaparan, Roh Besar mengirim seorang dewi untuk menyelamatkan kehidupan. Maka dewi itupun berkeliling dunia. Yang disentuh tangan kanannya tumbuh menjadi kentang, dan yang disentuh tangan kirinya tumbuh menjadi jagung. Sementara yang didudukinya tumbuh menjadi tembakau!

Begitulah mitologi suku Indian Huron menggambarkan tembakau yang sudah berabad-abad berkembang bersama peradaban Amerika Latin. Jumlah perokok secara global terus mengalami peningkatan. Walaupun dibeberapa kawasan jumlah perokok menurun, tetapi sejak rokok diperkenalkan kepada dunia pada awal abad ke 20 secara keseluruhan jumlah perokok dunia terus meningkat.

Kini tembakau (Nicotina Tobacum). terutama dalam bentuk rokok telah dikonsumsi oleh lebih dari sepertiga usia dewasa penduduk bumi. Kurang lebih satu milyar laki-laki diseluruh dunia merokok. Sementara terdapat sekitar 250 juta orang perempuan yang merokok. Di negara berkembang dari 50% penduduk yang merokok ternyata laki-laki lebih banyak mengkonsumsi rokok (35%). Sementara di negara-negara maju perempuan banyak yang merokok (22%) dibandingkan perempuan dinegara berkembang.

Rokok dan Politik akhirnya mempunyai kaitan yang erat. Lihatlah bagaimana rokok mempengaruhi banyak sisi kehidupan manusia. Ajakan untuk merokok melalui reklame menghabiskan biaya promosi yang sangat besar. Di India papan reklame tidak boleh mengiklankan rokok, dan peraturan ini berhasil menahan laju peningkatan perokok. Disisi lain walaupun rokok tak baik untuk kesehatan, tapi di Indonesia perusahaan rokok telah menjadi sponsor pertunjukan musik dan kompetisi olahraga.

Sangat mengkhawatirkan bahwa pengguna rokok dikalangan remaja meningkat. Seperempat dari perokok remaja memulai mengisap rokok sebelum mereka berusia 10 tahun. Padahal menurut Tobacco Atlas 2002 yang diterbitkan badan kesehatan dunia WHO, dari remaja-remaja yang meneruskan kebiasaan merokok setengahnya akan meninggal dunia karena berbagai penyakit akibat rokok.

Kerugian karena merokok baik berupa kematian premature, mordibilitas, disabilitas mencapai Rp. 27,3 Trilyun.
Belanja tembakau mencapai Rp. 122,1 Trilyun, untuk menghidupi 2.600 industri rokok (dengan nikotin dan tar terukur). Sementara diperkirakan sekitar 10% diantaranya adalah industri illegal (bahan kimianya tidak diketahui). Bahkan dalam era otonomi daerah industri rokok diperkirakan lebih dari 3.000 unit usaha, dan pada umumnya merupakan industri kecil. Mekanisme bisnis dan jejaring kepentingan industri rokok membuat industri rokok saling membunuh. Setidaknya kesemuanya telah memproduksi lebih dari 203 milyar batang rokok.
Ketika negara membutuhkan target pemasukan melalui APBN sebesar Rp. 600 Trilyun, maka 30 Trilyun diantaranya berasal dari cukai rokok. Di beberapa negara cukai dianggap sebagai alat pembatas masuknya ‘barang-barang berdosa’ dan dananya dipakai untuk menangani akibat ekternalitas. Misalnya, jika rokok dianggap membahayakan bagi kesehatan, maka dana dari cukai rokok dipakai untuk biaya merehabilitasi akibat-akibat yang ditimbulkan rokok. Tetapi di Indonesia cukai dianggap murni sebagai pendapatan negara.

Cukai rokok Indonesia sangat rendah, cuma 8% dibandingkan dengan Thailand (80%), India (70%), Nepal, Malaysia, Myanmar (75%). Kebanyakan di Indonesia mereka yang merokok rata-rata adalah golongan masyarakat menengah ke bawah. Orang-orang miskin membelanjakan 8-9% pendapatannya untuk membeli rokok dan bisa dibeli batangan, sehingga orang yang busung lapar pun masih bisa menikmati rokok. Akibatnya rokok di Indonesia sulit mengontrolnya dan Indonesia merupakan perokok No. 5 di dunia.

Kekhawatiran kehilangan Rp. 30 Trilyun dari rokok menyebabkan Indonesia enggan menyepakati konsensus yang dituangkan oleh Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)/Konvensi Internasional dalam Pengendalian Tembakau. Padahal sudah 168 negara meratifikasi ketentuan tersebut, termasuk negara-negara Asean - kecuali Indonesia.

Semua orang mengetahui bahwa merokok tidak baik. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan rokok mengganggu kesehatan sepanjang hidup, mengakibatkan ketidakmampuan fisik, dan berakhir dengan kematian. Para perokok beresiko kena penyakit kanker, serangan jantung, dan stroke. Merokok bagi perempuan hamil memicu keguguran, dan kelahiran bayi dengan berat badan rendah. Rokok menjadi urutan pertama penyebab kematian melebihi HIV/AIDS, penyalagunaan obat, kecelakaan jalan raya, dan kombinasi pembunuhan dan bunuh diri. Jika 100 juta orang tewas karena rokok pada abad 20, maka pada abad ke 21 jumlah yang tewas karena rokok meningkat menjadi 1 milyar orang.

Mati memang soal biasa, sebab penguasa hanya melihat manusia cuma deretan angka dan data. "Merokok akan mati, tidak merokok (juga) akan mati. Kalau begitu lebih baik (tidak) merokok !!," begitu kata teman yang suka nongkrong disamping Gereja LP. Pilihan jawabannya bisa bermacam-macam. Teman saya mengatakan merokok menyebabkan ‘awet muda’, terutama karena sudah keburu mati dan tidak sempat tua…

Pada umumnya orang (banyak) merokok saat membaca, bermain catur, dan juga menunggu - termasuk di Penjara. Seberapa hebat orang-orang menghabiskan rokok di LP Pematangsiantar? Jika dianggap rata-rata kapasitas Napi/Tahanan sebanyak 670 orang, hanya kurang lebih 20 orang (laki-laki dan perempuan) yang tidak merokok. Selebihnya pada umumnya merokok rata-rata 10 batang sehari. Ada yang tidak merokok karena tidak punya rokok, tetapi ada yang merokok berlebihan Di blok Dolok (tahanan) diperkirakan lebih banyak merokok dibandingkan Napi di blok lain, karena statusnya ‘masih sejahtera.’

Mereka yang menunggu sambil merokok di LP yaitu warga binaan (menunggu bebas), dan juga staf pegawai (menunggui warga binaan). Berdasarkan perhitungan kasar hasil dialog sel ke sel di LP Pematangsiantar, warga binaan termasuk staf pegawai diperkirakan menghabiskan 7.400 batang rokok per hari, atau 222.000 batang rokok per bulan. Lalu, berapa batang rokok yang dihabiskan oleh penghuni seluruh penjara di Indonesia?
Bagaimana caranya berhenti merokok? Apakah perlu terapi dan obat penawar yang ampuh? Caranya begini; nyalakan rokok terakhir anda, lalu hisap sekali dengan nikmat, kemudian injak sampai mati, dan berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak merokok! Mudah, bukan? Jika takut cepat mati karena sakit akibat rokok, maka berhentilah merokok! Sebab saya juga mencoba mengurangi (dan berhenti) merokok…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home